Raden Wijaya bertahan dari Serangan Kebo Mundharang (SERI 001)



“Baginda, hamba berpendapat tindakan paduka itu pasti akan sia-sia belaka. Ibarat petani dititah membaca kitab Kutaramanawa atau brahmana diperintah membajak sawah! Demikian hamba tamsilkan pengangkatan Nambi sebagai patih Amangkubhumi kerajaan Majapahit ! Pabila rakryan demang Lembu Sora dipandang tak memenuhi syarat, tentulah diri hamba yang layak dipertimbangkan. Bukan Nambi yang bodoh, lemah, rendah budi, penakut dan tak berwibawa itu. Tanpa Lembu Sora dan Lawe, kerajaan Majapahit pasti runtuh.......!”

Laksana halilintar meletus di tengah hari kemarau, menggelegarlah bingkai-bingkai atap, jalur-jalur pasak dan tiang-tiang pendapa agung keraton Majapahit. Dan berdenyar-denyarlah perasaan para menteri, tanda, gusti, bupati, tumenggung dan segenap narapraja kerajaan yang tengah hadir dalam perapatan besar di balairung pura agung. Mereka terpesona mendengar ucapan lantang dari Rangga Lawe, Adipati Tuban.

Ketika mendengar Nambi diangkat menjadi Patih Amangkubhumi kerajaan Majapahit, Adipati Tuban itu segera melarikan kudanya secepat angin, menuju ke pura Majapahit.

Dihadapan sidang lengkap kerajaan, ia menentang pengangkatan Nambi dan mencemohkannya habis-habisan. Dan dengan berani pula, ia mencela kebijaksanaan raja. Raja Kertarajasa Jayawardhana terkesiap.

Nambi adalah salah seorang kadehan Raden Wijaya yang setya dan besar jasanya. Ia ikut berjuang bersama Raden Wijaya untuk merebut kembali pura Singasari yang diduduki pasukan Daha sampai pada waktu Raden Wijaya yang bersekutu dengan pasukan Tartar, menggempur kerajaan Daha. Kemudian setelah berhasil mengalahkan Daha, Raden Wijaya lalu menyerang orang-orang Tartar itu dan mengusir mereka dari bumi tanah air.
Nambi, putera rakryan menteri Pranaraja, itupun ikut merasakan pahit getirnya penderitaan tatkala Raden Wijaya dikejar oleh Kebo Mundarang, patih dari kerajaan Daha. Anak buah pasukan Singasari yang dipimpin Raden Wijaya diserang oleh pasukan Daha yang dipimpin oleh Kebo Mundarang, sehingga porak poranda dan tercerai berai.

Pada waktu itu Raden Wijaya dengan diiringi Lembu Sora, Gajah Pangon, Medang Dangdi, Mahesa Wagal, Nambi, Banyak Kapuk, Kebo Kapetengan, Wirota Wiragati dan Pamandana, lari melintasi sawah yang baru terbajak. Tentara Daha tetap mengejarnya. Hampir saja Raden Wijaya dan para pengikutnya yang setya itu dapat ditangkap patih Kebo Mundarang, apabila saat itu tak terjadi suatu peristiwa yang ajaib. Pada saat hendak ditangkap, Raden Wijaya menghunjamkan kakinya ke tanah. Tanah muncrat berhamburan jatuh ke dada dan dahi Kebo Mundarang.

Kebo Mundarang menguak dan tersurut mundur beberapa langkah. Dadanya serasa terhantam palu gada. Kedua biji matanya serasa pecah tertabur percikan tanah liat. Cepat-cepat ia mendekap mata dengan kedua belah tangannya. Beberapa saat setelah rasa sakit berkurang, ia lepaskan tangannya. Tetapi Raden Wijaya dan anak buahnya sudah lenyap ke dalam hutan.

Mengingat jasa-jasa dari para kadehan yang setya itu, setelah berhasil membangun kerajaan Majapahit dan bertahta sebagai raja Majapahit yang pertama. Raden Wijaya yang dinobatkan sebagai raja Kertarajasa Jayawardhana itupun membalas budi.

Rangga Lawe diangkat menjadi menteri Amancanagara di daerah pesisir utara, dengan pangkat Adipati Tuban dan Dataran. Pengangkatan itu sesuai dengan amal jasanya yang cemerlang.

Dalam peperangan, ia selalu bersedia mempertaruhkan jiwa menjadi perisai keselamatan junjungannya dan pasukannya. Ia seorang senopati yang pandai mengatur siasat, pemberani dan gagah perkasa. Seorang keturunan Madura yang berwatak keras dan berdarah panas.

Lembu Sora diangkat sebagai rakryan Demang. Begitu pula mereka-mereka yang telah berjasa membantu perjuangan Raden Wijaya selama ini, telah diberi pangkat dan kedudukan yang sesuai. Diantaranya Nambi sebagai patih, Timpar sebagai tumenggung, Gajah Biru, Emban, Semi, Lembu Peteng, Ikalikalan Bang, Juru Demung, Pamandana, Teguh, Jangkung, Derpana, Jabung Tarewes, Jaran Bangkai, Panji Semara, Lasem, Windan, Lembu Pawagal, Kebo Andaka, Gajah Lembana, Gajah Enggon, Gajah Gambura, Liman Aguling, Panji Gagak Sumiring, Panji Anengah, Kebojampira dan lain-lain, telah diberi kedudukan sesuai dengan jasa dan kecakapannya.

Para kadehan itu amat bersyukur kepada baginda. Makin penuh kepercayaan mereka, makin meresaplah rasa setya-raja ke dalam tulang sumsum mereka. Tetapi tatkala baginda mengangkat Nambi sebagai patih Amangkubumi, timbullah hal-hal yang tak diharap.

Gelar Patih Amangkubumi adalah untuk patih di pusat pemerintahan kerajaan Majapahit. Sedang gelar Patih diperuntukkan patih kerajaan kecil-kecil yang bernaung di bawah kekuasaan Majapahit. Kahuripan, Kediri, Matahun, Wengker, Pajang, masing-masing mempunyai seorang patih. Maka kedudukan Patih Amangkubumi itu sama dengan Mahapatih atau patih seluruh negara. Amatya ring sanagara atau patih seluruh negara itulah yang menjalankan roda pemerintahan seluruh negara.

Demikian setelah beberapa jenak terpukau dalam ketegunan, mendeburlah darah raja Kertarajasa. Selintas rasa keagungan memancar. Rangga Lawe ber-lebih-lebihan ulah, bermanja kesombongan dan seolah-olah tak beraja di hati. Dihadapan perapatan agung yang dihadiri segenap narapraja, ia berani menghina patih Nambi, mencela raja.

Mata Kertarajasa memercik kilat berapi. Kerling matanya berhamburan mencurah kepada Adipati lancang itu. seakan-akan gumpal nanah dalam bisul yang tengah melingkar-lingkar mencari jalan meletup keluar. Tetapi ketika pandang mata baginda tertumbuk pada wajah Rangga Lawe, entah bagaimana, tiba-tiba reduplah nyala kemarahan baginda. Baginda terhening.

Pikirannya melayang-layang ke masa yang lampau.......!

Dahulu ketika Kerajaan Singasari dikalahkan pasukan Daha, pasukan Singasari yang dipimpin Raden Wijaya pun dihancurkan. Bahkan dia sendiri hampir tertangkap Kebo Mundarang, patih dari Daha.

Setelah lolos dari kejaran musuh, Raden Wijaya dan pengikutnya menuju ke Sumenep menemui Wiraraja adipati Madura. Wiraraja tetap bersikap setya pada Singasari dan menyambut Raden Wijaya dengan baik. Wijaya terharu dan seketika itu berjanji bahwa apabila kelak dapat merebut kerajaan Jawa, ia bersedia membagi separoh kerajaan kepada Wiraraja.

Adipati Wiraraja puas dan gembira sekali. Segera ia mengatur rencana untuk membantu Raden Wijaya. Ia menyarankan agar Raden Wijaya menyerah kepada raja Daha.

Disamping harus berusaha merebut kepercayaan raja Jayakatwang, Raden itu harus memperhatikan kekuatan Daha. Dan apabila sudah mendapat kepercayaan raja Jayakatwang, supaya ia mengajukan permohonan untuk membuka hutan Terik, sebuah desa yang tandus.

Setelah segala yang direncanakan berjalan lancar dan Raden Wijaya pun sudah diberi ijin untuk membuka hutan Terik. Maka ia segera mengirim Banyak Kapuk dan Mahesa Pawagal guna memberi laporan kepada Wiraraja.

Ketika kembali, kedua utusan itu disertai seorang putera dari Adipati Wiraraja yang telah membawa pesan dari ayahandanya. Raden Wijaya tertarik melihat sikap putera Wiraraja yang tegas dan berani.

Ia segera menanyakan namanya. Tetapi sebelum pemuda itu menjawab, Raden Wijaya sudah mendahului memberi nama pemuda itu: Wenang yang berarti benang atau Lawe. Kemudian diberinya pangkat Rangga. Dan terkenallah pemuda itu sebagai Rangga Lawe.

Rangga Lawe memang gagah berani, tangkas bicara tegas bertindak. Ia telah berjuang mati-matian membantu Raden Wijaya hingga berhasil membangun kerajaan Majapahit. Dan dia adalah putera Wiraraja yang berjasa besar sekali kepadanya.

Hampir dapat dikatakan Wirarajalah yang membimbing, memberi petunjuk, mengatur rencana dan mempersiapkan gerakan sehingga Raden Wijaya berhasil mengalahkan Daha, mengusir tentara Tartar dan mendirikan kerajaan Majapahit.

“Layakkah jasa anak dan bapak itu kuhapus begitu saja hanya karena kuanggap dia bertindak kasar dihadapanku.......?” demikian baginda merenung dan menimang, “Kelakuan Lawe itu tidak bermaksud jahat melainkan hendak meluapkan isi hatinya yang kecewa, iri dan penasaran. Dan kutahu dia memang berwatak kasar berangasan tetapi sesungguhnya ia memang tak kalah besar jasanya dengan lain-lain kawannya.......”

Pikiran raja Kertarajasa masih berlarut hanyut dalam laut kenangan masa lampau. Masa perjuangan yang penuh suka duka. Sesaat hampir ia lena bahwa saat itu sedang dihadap segenap menteri kerajaan.

“Lawe, jangan kurang susila dihadapan baginda!” sekonyong-konyong terdengar suara menggelugur bagai guruh hampir sirna kumandangnya.

Baginda tersentak dari renungan. Cepat ia mengangkat pandang kearah suara itu. Ah, demang Lembu Sora yang masih terikat hubungan sebagai paman dari Rangga Lawe.

Demang yang sudah menjenjang usia tua itu, seorang senopati yang sakti, gagah perkasa, jujur dan setya. Pada saat menemui kesulitan pada masa perjuangan dahulu, Wijaya selalu meminta nasehat dan petunjuk Lembu Sora. Lembu Soralah yang menganjurkan supaya Raden Wijaya minta bantuan kepada Adipati Wiraraja di Madura. Dalam perjalanan ke Madura, rombongan Wijaya kemalaman di tengah sawah.

Wijaya dan puteri Tribuana amat letih tetapi karena di tengah sawah, mereka tak dapat beristirahat. Serentak Lembu Sora telentang di tanah dan mempersilahkan Raden Wijaya serta puteri Tribuana duduk di atas perutnya.......

Kini kadehan yang setya itu telah diangkat sebagai Demang dengan gelar kebangsawanan Rakryan. Suatu kedudukan yang tinggi. Bebas keluar masuk keraton dan erat sekali hubungannya dengan raja.

Teguran Lembu Sora kepada Rangga Lawe yang masih terikat kemenakan itu, membuat baginda tertegun. Makin jelas betapa kesetyaan rakryan Demang itu kepada raja.

Mencelah seorang tokoh seperti Rangga Lawe, bukan hal yang olah-olah. Rangga Lawe seorang adipati yang berpangkat menteri Amancanagara. Seorang senopati yang gagah berani dan putera dari Adipati Wiraraja yang dijanjikan raja akan diberi separoh tanah kerajaan. Mendamprat Rangga Lawe, lebih berbahaya dari mencabut kumis seekor harimau buas.

Sesaat tergugahlah kesan baginda. Beliau tak menginginkan timbul keretakan diantara para kadehannya. Hanya karena soal pengangkatan Nambi. Beliau masih memerlukan tenaga Rangga Lawe untuk menjaga keamanan daerah pesisir utara.

Dari pelabuhan Tuban dan Dataran, dahulu tentara Tartar berlabuh dan menyerang raja Kertanagara dari Singasari karena telah menghina utusan kaisar Tartar. Tetapi kala itu Singasari sudah dikalahkan Daha. Maka dengan siasat yang cerdik, Raden Wijaya dapat mengelabui Ike Mi'tse panglima Tartar untuk diajak bersekutu menyerang Daha.

Setelah Daha dihancurkan, tiba-tiba Raden Wijaya menyerang tentara Tartar sehingga banyak yang mati, lari ke atas kapal dua terus berlayar pulang ke negerinya. Karena kekalahan itu panglima Ike Mi'tse dihukum mati oleh raja Tartar.

Tak sedikitpun baginda Kertarajasa melupakan peristiwa itu. Walaupun sudah berlangsung beberapa tahun tetapi bukan berarti sudah tiada kemungkinan bahwa raja Tartar akan mengirim pasukan pula untuk menghukumnya. Dan apabila kemungkinan itu terjadi, tentulah mereka akan mendarat di pesisir Tuban atau Dataran.

Dengan demikian jelas sudah betapa penting arti Tuban dan Dataran itu bagi keselamatan kerajaan Majapahit. Hanya tokoh semacam Rangga Lawelah kiranya yang paling tepat untuk menjaga pos pertahanan sepenting itu. Baginda mencamkan hal itu.

“Sudahlah, rakryan Sora,” seru baginda sesaat menyadari bahwa tibalah sudah waktunya ia harus bicara untuk mengatasi suasana yang panas, “Tentulah engkau kenal akan sebuah petuah yang disebut ‘widjna’ ialah supaya kita jangan meninggalkan kebijaksanaan, penuh hikmah dalam menghadapi kesulitan dan kegentingan yang bagaimana gawatnya.

“Keberanian dan kekerasan yang meluap berkemanjaan, akhirnya pasti akan sirna tumpas oleh kesaktian kebijaksanaan yang agung. Memerintah harus dengan kebijaksanaan yang bersifat adil dan mengayomi. Bukan dengan kekerasan yang bersifat lalim menindas! Dalam hal itu, banyaklah sudah kuteguk ajaran dan petunjukmu yang berguna!”

Lembu Sora terbeliak. Ia benar-benar tertegun mendengar ucapan baginda. Ternyata raja Kertarajasa masih seluhur budi Raden Wijaya dahulu. Tidaklah kedudukan tinggi, menyilaukan pandangan hidupnya. Tidaklah kekuasaan menyuburkan sifat Keangkaraan dan Ke-akuannya. Beliau benar-benar seorang raja yang tak goyah disanjung pangkat, tak rapuh dibuai kekuasaan.

Lembu, Sora tersipu-sipu memohon maaf.

“Lawe!” bergantilah tegur baginda tertuju kepada Adipati Tuban “Masih kenalkah engkau akan dirimu?”

Rangga Lawe tersentuh hatinya ketika mendengar kata-kata raja kepada Lembu Sora. Diam-diam ia malu dan menyesal.

“Hamba tetap Lawe, kadehan paduka yang selalu siap mempersembahkan jiwa raga kebawah duli tuanku.”

Mata baginda Kertarajasa bersinar penuh gairah.

“Benar, Lawe, dikau memang kadehan kesayanganku. Dahulu dan sekarang. Bhayangkara kerajaan Majapahit yang sekokoh dinding-dinding pura keraton. Tetapi kiranya engkau tentu tak lupa juga siapa Lembu Sora, Nambi, Timpar, Gajah biru dan lain-lain itu, bukan?”

“Sekali-kali hamba tak pernah berani melupakan mereka, gusti. Mereka adalah kawan seperjuangan hamba dan kadehan paduka yang setya,” sahut Rangga Lawe.

“Ah, kiranya engkau sudah mencamkan hal itu. Tetapi mengapa engkau meributkan soal pengangkatan Nambi? Bukan dikau seorang, Lawe. Bukan pula Lembu Sora maupun para kadehan lain yang merasa wajib menjaga tegaknya kerajaan Majapahit. Tetapi segenap kadehan dalam bentuk sebagai kesatuanlah yang terbeban oleh tugas kewajiban itu!”

Baginda berhenti sejenak untuk meluangkan perhatian ke arah para menteri yang hadir. Beliau hendak mengaji kesan yang terpancar dari wajah para narapraja. Tampak segenap menteri hulubalang dan narapraja menganggukkan kepala dan menegakkan sikap. Sikap dari prajurit yang siap melaksanakan perintah.

Diam-diam berbesarlah hati baginda. Beliau memperoleh kesan bahwa para menteri hulubalang itu tetap taat dan setya.

“Pengangkatan Nambi sebagai Patih Amangkubumi, janganlah engkau tafsirkan sebagai suatu anugerah kepada pribadi Nambi,” ujar baginda kepada Lawe, “tetapi hendaknya diterima sebagai suatu kepercayaan negara kepada seluruh kadehan!”

Kemudian dengan nada yang lebih tandas, baginda berseru pula, “Lawe, ucapanmu yang mencerminkan rasa ketidakpuasan tadi, sesungguhnya hanya merendahkan derajat kesatuan kadehan secara menyeluruh. Termasuk dirimu sendiri!”

“Gusti junjungan hamba yang mulia,” Rangga Lawe bersembah kata “bahwasanya paduka mengangkat salah seorang kadehan pada kedudukan setinggi itu, amatlah besar hati hamba. Benar, gusti, hamba memang menganggap tindakan paduka itu suatu kepercayaan dan penghargaan besar kepada kami seluruh kadehan.”

Ia berhenti sejenak untuk menekan gejolak darahnya yang mendebur keras. Sesaat kemudian ia melanjutkan pula,

“Suatu Kepercayaan menuntut kewajiban, karena pada galipnya Kepercayaan itu suatu Wajib. Suatu pertanggungan jawab. Pengangkatan Nambi sebagai Patih Amangkubumi, merupakan suatu kepercayaan yang menuntut pertanggungan jawab besar. Berat rasa hati hamba menyambut tanggung jawab itu.

“Maka dalam rangka menanggulangi tanggung jawab itulah maka hamba bergegas-gegas menghadap paduka. Karena pada hemat hamba, sukarlah kiranya Nambi dapat melaksanakan tanggung jawab sedemikian beratnya. Gagalnya Nambi dalam mengemban tugas berat itu, akibatnya sukar hamba lukiskan.

“Roda pemerintahan Majapahit pasti akan sarat dan kacau. Kewibawaan kerajaan tentu akan menurun. Dengan demikian paduka bagaikan menanti tumbuhnya batu yang ditanam di tanah. Dan kedua kalinya kami seluruh kadehan pasti akan tercontreng muka. Akan rusak binasalah seluruh amal pengabdian kami pada masa-masa yang lampau. Ibarat panas setahun dihapus oleh hujan sehari..............”(bersambung)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Raden Wijaya bertahan dari Serangan Kebo Mundharang (SERI 001)"

Post a Comment

pembaca yang bijak, selalu menggunakan bahasa yang baik dan santun. Terima kasih.

Translate

Cari

LIVE TRAFIC FEED