Pertarungan Ronggolawe (Seri 002)




Raja Kertarajasa terkesiap.

“Hm, Lawe, apakah alasanmu maka engkau tak menyetujui pengangkatan Nambi itu? Tidaklah Nambi sudah mengaji pengalaman sebagai patih dan sudah pula lulus dalam ujian kesetyaan dan pengabdiannya?”

“Gusti junjungan seluruh rakyat Majapahit,” seru Rangga Lawe nyaring “pemegang tampuk pemerintahan sebuah kerajaan sebesar Majapahit, tidaklah tepat jika ukurannya dipandang dari sudut kesetyaan dan pengabdian saja. Untuk kesetyaan dan pengabdian, dapatlah kiranya dianugerahi dengan penghargaan lain yang sepadan.

“Tetapi Patih Amangkubumi itu merupakan kedudukan yang maha penting. Yang memegang kemudi roda pemerintahan. Maka haruslah dipilih dari tokoh yang benar-benar cakap dan putus dalam pengetahuan tatapraja. Memiliki kepandaian dan pandangan yang luas dan tepat. Nambi hamba anggap tak memadai persyaratan itu.”

“Lalu siapakah gerangan yang engkau anggap tepat menduduki jabatan itu?”

Rangga Lawe tertegun heran. Keheranan itu lanjut menumbuhkan rasa curiga. Bukankah baginda sudah cukup memaklumi bahwa dikalangan kadehan raja yang setya dan cakap, bukan hanya Nambi seorang? Bukankah masih ada Lembu Sora, dan ia sendiri?

Adipati Tuban itu terpukau. Sampai pada akhirnya tertumbuklah jangkauan renungannya pada suatu kesimpulan. Ah, mungkinkah kiranya baginda hendak menguji isi hatinya? Sesuai dengan perangainya, Adipati Tuban itu cepat sekali menarik kesimpulan dan keputusan.

“Gusti, jika paduka berkenan menanyakan pikiran hamba. Maka menurut pandangan hamba yang picik ini, kiranya tiada seorang kadehan lain yang dapat menyamainya, baik dari amal pengabdian, kesetyaan maupun pandangannya yang luas serta keahliannya dalam soal-soal ketataprajaan.........”

“Siapa?” seru sang prabu.

“Rakryan Demang Lembu Sora!”

“Hai, Lawe, jangan bermulut lancang!” serentak Lemba Sora berteriak keras. Wajah rakryan demang yang mulai dilanda usia lanjut itu, merah tegang.

Kemudian ia menyembah ke arah raja. “Duh, baginda tuanku Kertarajasa! Mohon paduka campakkan saja ocehan silancang mulut Lawe itu! Setitikpun tiada terlintas dalam pikiran hamba untuk menduduki jabatan Patih Amangkubumi yang maha berat itu........”

Baginda menatap demang itu.

“Hamba sudah tua, gusti,” Lembu Sora melanjutkan sembahnya, “hambapun sudah puas menerima anugerah paduka sekarang ini. Yang penting bagi hamba. Bukan soal pangkat, bukan pula soal kedudukan.

“Tetapi soal kesejahteraan kerajaan Majapahit dan keselamatan paduka. Kedudukan Patih Amangkubumi, hamba seyogya akan keputusan paduka untuk mengangkat siapa juga. Dan hamba pandang, Nambi memang tak tercela menduduki jabatan itu........”

“Hm, apakah alasanmu mengatakan begitu? Aku senang mendengar sikap jujur dan tegas dari Lawe yang berani menyanggah pengangkatan itu. Asalkan sikap dan sanggahan itu benar-benar berlandas kesucian hati, sepi ing pamrih.

“Kebalikannya, aku tak senang akan sikap orang yang selalu mengiakan saja. Sehingga karenanya aku tak mengetahui kekurangan dan kesalahanku.”

Lembu Sora berdiam diri sampai beberapa saat. Kemudian ia berkata pula “Hamba berpendapat, Nambi sudah cukup memenuhi syarat. Yang dicegah Rangga Lawe hanyalah tentang kecakapannya mengatur pemerintahan. Tetapi menurut hemat hamba, Nambi cukup memiliki kecakapan, pengalaman, pandangan luas, kesabaran dan pengetahuan tentang soal-soal ketata-prajaan. Nambi tidaklah sejelek yang dikata Rangga Lawe........”

“Paman Sora!” serentak Rangga Lawe melantang “janganlah paman meng-emaskan barang loyang. Menyebut keledai seekor kuda tegar. Akan kubuktikan sampai dimana derajat kecakapan dan pandangan Nambi yang paman sanjung-sanjung itu.

“Pertama, tentulah paman masih ingat dikala baginda kita hendak menyerbu Daha. Baginda meminta pendapat para kadehan, dengan dasar alasan apakah kiranya penyerbuan itu akan dilakukan. Karena berperang tanpa sebab, akan menimbulkan tuduhan orang bahwa baginda tak kenal menerima kasih atas kebaikan raja Jayakatwang........”

Adipati Tuban berhenti sejenak untuk mempersiapkan uraiannya lebih lanjut. Kemudian, “Saat itu kuusulkan supaya baginda mengirim utusan ke Daha meminta kembali puteri Pusparasmi yang ditawan di keraton Daha. Jika ditolak, maka kita mempunyai alasan untuk menyerbu Daha.

“Paman Sora mengusulkan supaya memberontak begitu saja. Gajah Pagon dan Lembu Peteng mendukung pendapat paman Sora. Lalu apakah usul Nambi? Dia mengusulkan agar tentara Majapahit berusaha memikat para menteri Daha agar berkhianat dan memihak kita.

“Setelah itu baru kita serang dan memaksa raja Jayakatwang menyerah. Sebagai balas budi akan kebaikan raja Jayakatwang, baginda kita harus sudah puas dengan mendapatkan puteri Pusparasmi dan puteri Daha Ratna Kesari.

Tetapi Podang tak setuju. Dia lebih suka berterus terang. Pendapat itu ditunjang Panji Asmarajaya, Jaran Waha dan Kebo Bungalan. Akupun setuju juga. Karena kuanggap, betapapun alasannya, perang adalah perang. Dan raja Jayakatwang harus kita gempur!”

Berhenti sejenak, berkata pula Rangga Lawe dengan nada makin tinggi. “Nah, dari peristiwa penting semacam itu, dapatlah kita mengetahui sampai dimana derajat pandangan Nambi. Betapa liciklah buah pikirannya untuk mengusulkan siasat memikat musuh supaya berkhianat kepada rajanya.

“Bukankah cara itu mengunjuk sikap yang tidak jantan? Bukankah cara itu mengunjuk kalau kita ini lemah dan ketakutan? Lalu pendapat Nambi agar baginda kita membalas budi raja Jayakatwang dengan sudah puas menerima saja penyerahan puteri Pusparasmi dan puteri raja Jayakatwang yang bernama Ratna Kesari itu. Disinilah makin jelas sifat-sifat Nambi yang aseli dan lingkar alam pikirannya.”

Rangga Lawe berhenti lagi, lalu, “Nambi menganggap tujuan serangan kita ke Daha itu hanya untuk memperebutkan puteri-puteri cantik belaka. Dia menilai darah dan korban-korban yang bergelimpangan dalam medan peperangan itu hanya untuk sesaji memperebutkan wanita cantik saja.

“Pada hal jelas bahwa penyerangan ke Daha itu adalah untuk mencari balas pada Daha yang telah menghancurkan Singasari. Yang lebih penting lagi, Raden Wijaya hendak membangun kembali kerajaan warisan dari Ken Arok atau nenek baginda Rajasa Amurwabumi!”

Suasana balairung hening lelap. Hanya desuh nafas dari berpuluh menteri yang berhamburan deras. Dan yang paling menderita, adalah rakryan patih Nambi.

Sekiranya perasaan itu mempunyai warna, maka tak putus-putusnya perasaan patih Nambi itu berobah-robah. Sebentar merah, sebentar membesi kelabu dan sesaat kemudian memancar warna bagai pelangi menggagah cakrawala.......

Sementara tampak dada Lembu Sora berkembang kempis seperti orang yang habis lari keras. Sebagai orangtua yang masih pernah paman, sebagai rakryan yang menjabat Nayapati atau panglima besar angkatan perang Majapahit, ia tersinggung mendengar bantahan Rangga Lawe. Ia hendak menjawab tetapi didahului Rangga Lawe lagi.

“Dan siapakah yang telah menyabung nyawa dalam peperangan dengan Daha itu?” seru Rangga Lawe, “Walaupun dengan cerdik raja Jayakatwang telah membagi pasukannya dalam tiga pertahanan, tetapi tetap dapat kita hancurkan. Aku yang kebetulan memimpin serangan dari lambung kiri, berjumpa dengan menteri Daha yang bernama Sagara Winotan dan senopatinya yang bernama Rangga Janur.

“Kesempatan itu kugunakan untuk membalas dendam karena ketika di Tarik, Sagara Winotan telah menghina anak pasukan Madura. Dalam pertempuran itu, terkabullah nazarku untuk menuntut balas.

Aku meloncat ke atas kereta perang Sagara Winotan dan berhasil membunuhnya. Peperangan di Daha bukan kepalang dahsyatnya. Tanah bersimbah darah, mayat menganak bukit. Hanya dengan tekad dan keberanian yang menyala-nyalalah maka kita berhasil mengalahkan Daha yang jauh lebih besar pasukannya dan lebih lengkap persenjataannya.

“Tetapi kemanakah gerangan Nambi saat itu? Apakah dia juga turut menyabung nyawa? Rasanya tiada seorang anak buah pasukan kita yang melihat kehadiran Nambi saat itu. Dan kini setelah kerajaan Majapahit terlaksana berdiri, ternyata Nambilah yang diangkat sebagai Patih Amangkubumi!”

“Tutup mulutmu!” rakryan Demang Sora meledak bentakan, “Memang benar kala itu Nambi tak ikut bertempur tetapi dia menjalankan tugas lain yang tak kalah pentingnya. Dia ditugaskan sebagai penghubung pasukan kita dengan pasukan Tartar. Disamping juga harus melindungi keselamatan baginda!”

“Paman Sora,” langsung Rangga Lawe menjawab, “mengapa paman mati-matian membelanya?”

“Seorang kesatrya wajib menghormat lain kesatrya! Jangan memulas pada diri sendiri tetapi mencontreng arang pada muka orang. Kemenangan pasukan Majapahit itu adalah berkat kepemimpinan baginda yang telah direstui para Dewata. Kemenangan itu adalah kemenangan seluruh pasukan Majapahit.

“Bukan kemenangan Rangga Lawe, bukan pula kemenangan Lembu Sora. Jangan menonjolkan jasamu sendiri dan menghapus jasa orang lain. Setiap perajurit yang ikut dalam peperangan itu, semua berjasa. Tanpa pengabdian mereka, tak mungkin Rangga Lawe mencapai kemenangan!”

Wajah Adipati Tuban memburat merah. Serentak menjawablah ia, “Benar, benar, semuanya itu memang benar! Kepemimpinan Raden Wjaya dan pengabdian para perajuritlah yang menimbulkan kemenangan itu. Dan semua yang ikut dalam peperangan itu, dari perajurit rendah sampai pada senopati, berjasa semua.

“Tetapi adakah jasa itu dapat disama-ratakan? Adakah jasa Lembu Sora sama dengan jasa perajurit Suta? Ah, kiranya tentu tidak. Dan bagindapun telah memahami hal itu. Painin diangkat menjadi rakryan Demang. Nambi diangkat patih dan akupun dianugerahi pangkat adipati mancanagara di Tuban dan Dataran. Para perajurit dinaikkan pangkat sesuai dengan jasa masing-masing. Dengan tindakan baginda itu, jelas bahwa jasa itu terbagi besar dan kecil.”

Tangkisan Rangga Lawe itu agaknya mendesak Lembu Sora. Untunglah ia seorang tokoh tua yang lama berkecimpung dalam lautan pengalaman. Cepat ia dapat mengelak dan susupkan pertanyaan, “Hm, kiranya engkaupun sudah mengakui bahwa baginda telah membalas jasamu. Tetapi mengapa engkau masih kurang penerima dan tak puas pada Nambi?”

Rangga Lawe tertawa ringan. Ia tahu bahwa Lembu Sora sudah terdesak dalam perbantahan. Diam-diam ia menyadari bahwa Lembu Sora itu seorang tua, seorang tokoh kerajaan yang tinggi kedudukannya. Apabila terlalu didesak, tentulah akan malu. Rasa malu mudah membangkitkan kemarahan.

Padahal ia menyadari bahwa kedatangannya ke pura Majapahit itu adalah untuk menggagalkan pengangkatan Nambi. Dalam usaha itu ia harus dapat merebut simpati sekalian menteri nayaka agar memberi dukungan.

Lembu Sora dan Nambi mempunyai pengaruh dan penganut besar dalam kalangan kerajaan. Untuk menghadapi Nambi seorang saja, ia sudah merasa berat. Apapula harus mencari musuh lagi tokoh semacam Lembu Sora. Bukankah hal itu hanya menambah beban penyakit saja?

“Paman,” ujarnya setelah pikirannya agak mengendap, “harap jangan salah paham. Kedatanganku kemari ini sekali-kali bukan dengan bekal iri dan dengki tetapi karena panggilan rasa pengabdian. Kuduga bahkan kupastikan, tentu tiada seorang pun menteri dan narapraja yang menentang pengangkatan Nambi.

“Entah karena memang setuju atau hanya karena takut akan murka baginda. Takut kehilangan pangkat dan kedudukan. Walaupun hati tidak setuju, tetapi mulut tak berani menyatakan. Ini memang sudah jadi penyakit para narapraja yang mengabdi untuk kenikmatan kedudukan. Tetapi bukan mengabdi untuk kepentingan negara.

“Kemungkinan besar hanya aku Lawe seorang, yang berani menyatakan pendapat berlainan dari keputusan raja. Karena tindakanku itu, aku tentu dianggap lancang, berani menentang raja. Mungkin baginda murka dan menghukum diriku. Mencopot kedudukanku sebagai adipati mancanagara.

“Tetapi kesemuanya itu sudah kuperhitungkan. Apabila jeri, tak mungkin saat ini Lawe berada di balairung sini. Setitikpun aku tak menyesal kalau harus menderita akibat itu.

“Tetapi Lawe adalah seorang perajurit. Perajurit itu bhayangkara negara. Mati bersama negara. Sebagai perajurit sejati, tak mungkin Lawe ikhlas melihat sesuatu yang merugikan kerajaan. Matipun puas kalau aku sudah menunaikan tugasku untuk menyelamatkan negara. Walaupun karena pendapat itu aku harus menerima hukuman penggal kepala, tetapi Rangga Lawe takkan mundur setapakpun dari pendiriannya!”

Suasana balairung makin dibenam kelelapan. Hanya napas-napas yang memburu keras bagai kuda berpacu. Diam-diam baginda Kertarajasa memuji sikap yang jujur dan tegas dari Adipati Tuban itu.

Kata-katanya amat mengesan. Diluar kesadaran diam-diam baginda mulai terhembus angin baru. Dan pintu hati bagindapun mulai bergetar. Perhatiannya mulai mengarah pada pengangkatan Nambi.

“Dalam laut mudah diduga tetapi hati manusia sukar diraba. Tidak semua benda yang bergemerlapan itu tentu emas. Pun tidaklah selalu ucapan yang merdu nadanya itu mengandung tujuan suci........” Ucapan Lembu Sora yang bernada setengah bersenandung itu sukar dimengerti sasarannya.

“Jangan bersenandung seperti angin lalu. Bicaralah terus terang saja, paman. Lawe sedia mendengar!”

“Kumaksudkan, manusia itu makhluk yang paling aneh, paling bernafsu, paling angkara. Harimau buas apabila sudah kenyang memakan seekor lembu, tentu sudah puas. Tetapi lain hal dengan manusia. Belum punya harta, ingin mencari harta. Tetapi setelah punya harta, ingin menumpuk sampai setinggi gunung.

“Yang rendah pangkat ingin meraih kedudukan tinggi. Setelah mendapat pangkat tinggi masih tetap ingin merenggut kedudukan yang paling tinggi. Bahkan kalau mungkin menjadi raja diraja........”

“Demang Lembu Sora!” teriak Rangga Lawe dengan wajah merah padam. Rupanya adipati Tuban itu sudah tak dapat mengendalikan diri lagi.

Dipanggilnya Lembu Sora dengan sebutan pangkatnya sebagai demang. Bukan sebagai paman. Dengan begitu ia hendak menempatkan Lembu Sora sebagai sesama menteri kerajaan, “beleklah dada Rangga Lawe dan periksalah hatinya berbulu atau tidak!”

Adipati Tuban itu segera membuka baju dan busungkan dada ke arah Lembu Sora, menantang. Suasana balairung mulai berisik dengan suara bisik-bisik dari segenap menteri nayaka.

“Lawe, jangan berlebih-lebihan ulah!” cepat baginda berseru “tiada seorangpun yang meragukan kesetyaanmu. Sekarang tegaskan pendirianmu! Adakah engkau tetap pada pendirianmu tak menyetujui pengangkatan Nambi?”

“Mohon paduka berkenan melimpahkan kemurahan kepada diri hamba. Sekalipun paduka menitahkan hukuman pada hamba, hamba tetap tak rela kalau Nambi diangkat sebagai Patih Amangkubumi.

“Paduka telah menyaksikan sendiri betapa tandang tanduknya dahulu. Ia amat mengecewakan, bodoh, lemah, rendah hati, penakut dan tak memiliki kewibawaan. Apabila dia yang memegang tampuk pimpinan negara, pasti akan merosotkan kedudukan negara, memudarkan kewibawaan paduka!”

Balairung pura Majapahit tergetar bagai dilanda gempa bumi. Beberapa menteri dan senopati gemetar tubuhnya. Seandainya tidak dihadapan sang Prabu mereka tentu sudah bergerak menghajar Rangga Lawe.

Baginda sudah memberi kelonggaran amat besar tetapi rupanya Rangga Lawe tetap kurang susila. Bahkan bersikap congkak. Karena dilanda kemarahan, para menteri dan narapraja kabur paham sehingga untuk beberapa jenak mereka tak tahu apa yang harus dilakukan.

“Kakang Nambi, tentulah engkau tersinggung dengan kata-kataku tadi,” seru Rangga Lawe kepada Nambi yang masih terpukau, “tetapi hendaknya engkau suka menarik garis tajam antara urusan pribadi dengan urusan negara. Kita kawan lama, kawan seperjuangan. Kitapun tak pernah berselisih, tak pernah saling dendam.

“Sebagai kawan, Rangga Lawe bersedia membelamu dengan segenap jiwa raga. Tetapi dengan urusan negara, terpaksa aku harus meletakkan kepentingan negara di atas hubungan pribadi! Betapapun pahit dan tajam kata-kata yang kulontarkan tadi, namun hal itu suatu kenyataan. Kuterima engkau sebagai kawan baik tetapi tak kurelakan engkau menjabat Patih Amangkubumi kerajaan Majapahit!”

Rangga Lawe berhenti memperhatikan Nambi. Tampak wajah patih Nambi pasang surut cahayanya. Sebentar merah tegang, sebentar pucat sunyi......(Bersambung)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pertarungan Ronggolawe (Seri 002)"

Post a Comment

pembaca yang bijak, selalu menggunakan bahasa yang baik dan santun. Terima kasih.

Translate

Cari

LIVE TRAFIC FEED