KEMARAHAN RONGGOLAWE (SERI 004)



      Terakhir ia mengangkat sebuah arca batu yang berbentuk seorang penjaga taman dengan mencekal senjata gada. “Huh, tak perlu engkau menjaga taman ini. Hayo, pulanglah engkau ketempat asalmu!” gumannya seorang diri. Arca yang setinggi anak kecil itu diangkat tinggi-tinggi di atas kepalanya terus hendak dilemparkan ke muka balairung.

Sekonyong-konyong ia terkejut demi melihat sesosok tubuh muncul ke halaman balai bang. Kemarahan serasa membakar mata Rangga Lawe. Pandang matanya nanar berpudaran. Ia duga yang muncul itu tentulah Nambi atau Kebo Anabrang yang sedang dinanti-nantinya itu. Maka tanpa memperdatakan lagi, segera ia campakkan patung ke arah pendatang itu....... .

Yang keluar ke balai bang itu adalah Lembu Sora. Ia sudah siaga. Dengan tangkas ia dapat menghindar. Tetapi ia tak mau. Ia memang sengaja hendak mengunjuk kesaktian untuk mematahkan semangat Lawe. Dengan gerak yang amat cekatan sekali, disambutinya patung itu terus dilontarkan kembali ke arah Lawe.

“Hm, Lawe, jangan kurang ajar kepadaku!”

Adipati Tuban terkesiap ketika patung yang dilontarkan itu dapat disambuti dan terus dicampakkan kembali kepadanya. Saat itu ia tersadar siapa yang datang itu. Tetapi ia sudah terlanjur dirangsang kemarahan.

Iapun tak mau unjuk kelemahan. Ia hendak unjuk kesaktian kepada orang Majapahit. Pada saat patung melayang, sesaat kerahkan tenaga, cepat ia songsongkan tinjunya, “pyur.......” patung batu penjaga taman, seketika hancur berantakan berhamburan ke empat penjuru!

Tetapi demi mendengar suara hardikan Lembu Sora, entah bagaimana, mengendapkan darahnya yang mendidih. Yang datang itu jelas Lembu Sora, bukan Nambi atau Kebo Anabrang yang diharapkan.

“Lawe, adakah kulitmu sudah rangkap tujuh, maka engkau berani melawan Lembu Sora?” seru orang itu seraya menghampiri.

Rangga Lawe terbeliak. Ia menyadari sedalam-dalamnya diri Lembu Sora. Ia ingat, bahwa dalam masa-masa perjuangan membantu Raden Wijaya dahulu, banyaklah ia menerima petunjuk dan bimbingan dari pamannya.

Sampai saat itu hubungannyapun tetap baik. Kemudian kesadarannyapun makin menandaskan bahwa bukan Lembu Sora yang menjadi sasarannya. Dan iapun merasa segan untuk berkelahi dengan paman sendiri.

“Paman........”

Lembu Sora melangkah sambil menatapkan pandang matanya lekat-lekat. Langkahnya tenang sarat. Wajahnya memantul keteguhan hati. Sikapnya segagah senopati yang terjun dalam medan laga. Tiba-tiba Rangga Lawe mencabut keris lalu menyongsong maju. Lembu Sora terkesiap. Cepat ia bersiap menghadapi kemenakannya yang beradat berangasan itu.

Rangga Lawe berhenti dua langkah dihadapan Lembu Sora. Dipandangnya wajah Sora dengan tajam. Lembu Sora makin tegang perasaannya. Timbul pertentangan hebat dalam hatinya.

Ia menyadari bahwa yang dihadapinya itu adalah putera dari Adipati Wiraraja, yang masih terikat hubungan sebagai kakak. Betapa perasaan Wiraraja bila mendengar puteranya terluka atau binasa dalam tangannya. Sukar dibayangkan. Tetapi iapun tak mau meninggalkan kewajibannya sebagai seorang menteri yang harus membela junjungannya.

Tiba-tiba ia teringat akan ucapan dari Pamandana tadi. Ia marah kepada menteri Pamandana karena secara halus memberi peringatan kepadanya. Bahwa ia sebagai seorang paman wajib mengatasi seorang keponakan yang kurang susila dihadapan baginda.

Seketika hapuslah segala otak-atiknya terhadap kesedihan Wiraraja. Saat itu ia adalah rakryan demang Lembu Sora yang berkuasa sebagai panglima besar tentara Majapahit. Dan sadar pulalah ia bahwa perajurit itu harus membela negara dan raja.

Keputusan itu makin dipertegas oleh kenyataan bahwa saat itu Rangga Lawe sudah berdiri dua langkah dihadapannya dengan keris terhunus. Suatu jarak yang mudah dijangkau apabila Rangga Lawe akan melakukan serangan secara kilat.

“Paman........” tiba-tiba Rangga Lawe gerakkan tangan yang mencekal keris itu ke muka.

Seketika berhentilah rasanya aliran darah dalam tubuh Sora. Hampir saja ia akan menyurut mundur karena mengira Rangga Lawe hendak menusuk. Untunglah kesiap-siagaan dan naluri keperajuritan yang ditempuhnya dalam pengalaman di medan pertempuran, melintas kesan dalam benaknya.

Cepat-cepat ia dapat menduga bahwa gerakan keris Rangga Lawe itu tidak begitu keras dan cepat. Berbeda dengan gerakan orang yang hendak menyerang.

Apa yang disimpulkan memang tepat. Keris yang disongsongkan Rangga Lawe ke muka itu, masih terpaut dua tiga jari dari tubuh Lembu Sora. Demang itu rentangkan mata lebar-lebar penuh menghambur pandang tanya. Tetapi sebelum sempat ia menegur, Rangga Lawe sudah mendahului “Paman, bunuhlah aku.......!”

Lembu Sora termangu. Bukankah baru saja beberapa saat tadi, Adipati Tuban itu marah-marah dan mengamuk di taman balai bang? Bukankah baru saja Lawe melontar arca batu kepadanya? Mengapa saat itu tiba-tiba Lawe serta merta menyerahkan diri?

“Lawe, apakah maksudmu?” rakryan demang Lembu Sora masih meneguk keterangan. Ia masih sangsi.

“Paman, pikiranku gelap. Sekali-kali bukan tujuanku menghina baginda. Aku terangsang keinginan untuk menentang pengangkatan Nambi........”

Saat itu hilanglah segala keraguan yang mengabut dihati Lembu Sora. Ia tak sangsi lagi bahwa Rangga Lawe sudah menyadari kesalahannya. Namun untuk memantapkan kesadaran pada pikiran Lawe, perlulah ia memberi penjelasan yang mendalam.

“Lawe, angger,” katanya agak sabar, “simpanlah keris pusakamu itu. Engkau berhadapan dengan pamanmu, bukan dengan musuh. Dan keris pusaka itu adalah untuk membunuh musuh bukan untuk membunuh dirimu sendiri........”

Rangga Lawe terpukau.

“Paman takkan membunuhmu karena bukan pamanlah yang berhak menjatuhkan hukuman. Hidup dan mati kita para kadehan, di tangan baginda,” kata Lembu Sora pula.

Masih Rangga Lawe berdiam diri,

“Lawe, kiranya engkau masih menyadari bahwa engkau adalah kadehan yang terkasih dari baginda. Bahkan dikau, anakku, merupakan bulu-cumbu baginda yang paling disayang. Bukankah sejak masih Raden Wijaya hingga bergelar raja Kertarajasa Jayawardhana, tak kunjung putus baginda melimpahkan budi kebaikan kepadamu?”

Lembu Sora berhenti sejenak untuk menyelidik kesan. Sampai sejauh manakah ucapannya itu dapat meresap ke dalam hati adipati Tuban itu. Pada lain saat ia melanjutkan pula.

“Kita adalah perajurit yang menganggap diri kita sebagai kesatrya. Diantara salah suatu sifat dari seorang kesatrya yang luhur, ialah tahu membalas budi. Tribrata, tiga laku utama. Mempersembahkan puji syukur kepada Gusti Yang Maha Kuasa atas segala berkah dan rahmatNya. Membalas budi kepada orangtua, guru yang telah merawat dan mendidik kita. Membalas budi kepada raja dan negara yang telah memberi pengayoman dan kesejahteraan hidup........”

Kembali rakryan demang itu berhenti untuk mengatur napas, kemudian,

“Salah satu cara untuk membalas budi kepada raja adalah mematuhi segala peraturan yang telah dituangkan dalam undang-undang negara. Misalnya, karena pengangkatan Nambi itu sudah menjadi keputusan baginda, wajiblah kita mentaatinya. Tindakanmu menentang pengangkatan itu, disamping dapat dianggap sebagai tindak seorang kesatrya yang tak tahu membalas budi, pun cenderung untuk dituduh sebagai tindak menghina seorang kepala negara.......”

“Paman!” tiba-tiba Rangga Lawe menukas nyaring, “adakah kalau seorang tua bertindak keliru dan puteranya mengaminkan saja, dapat dianggap sebagai seorang anak yang berbakti? Adakah kalau raja bertindak khilaf dan kita yang merasa menerima kenikmatan hidup dari negara, mengiakan saja. Dapat dianggap sebagai seorang kesatrya yang tahu membalas budi?

“Jika demikian halnya, biarlah Rangga Lawe dituduh sebagai manusia kasar, adipati pemberontak dan kesatrya yang tak kenal budi! Aku tetap menentang pengangkatan Nambi. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung! Biarlah karena tindakanku itu, aku harus kehilangan pangkat, kedudukan dan bahkan jiwa raga!”

“Tetapi adakah sudah terbukti bahwa sebagai Patih Amangkubumi, Nambi telah merosotkan kewibawaan raja dan kerajaan?” selutuk Lembu Sora.

Rangga Lawe tertawa hambar. “Barangsiapa yang makan buah maja keliwat banyak, tentu akan keracunan. Paling tidak tentu mabuk. Dengan dasar pengalaman, kita wajib menasehati orang supaya jangan memakannya.

“Bukankah ganjil apabila kita biarkan dulu orang itu mabuk atau mati keracunan setelah makan maja, kemudian baru kita nasehati supaya jangan makan? Bukankah itu sudah terlambat?

“Demikian dengan diri Nambi. Berdasarkan tingkah dan pribadinya yang sudah kita ketahui, dapatlah kupastikan kalau dia tentu tak mampu mengendalikan pemerintahan Majapahit. Soal negara bukan soal coba-coba. Adakah sesuai kita baru bertindak kalau keadaan sudah rusak? Bukankah mencegah lebih tepat daripada memperbaiki?”

Ucapan yang tajam dari Adipati Tuban itu membuat Lembu Sora terpukau. Sumber akal pikirannya, tersibak berhamburan oleh kata-kata Lawe. Untunglah pengalaman dapat membantu demang yang tengah terdesak dalam perbantahan itu. Sejenak mengheningkan cipta, dapatlah ia menemukan tangkisan.

“Lawe, pengangkatan Nambi bukan suatu hadiah yang jatuh dari langit. Melainkan hasil keputusan baginda raja yang telah dipermusyawarahkan dengan para menteri kerajaan. Jelas bahwa pengangkatan Nambi itu telah didukung oleh seluruh menteri narapraja kerajaan, kecuali engkau seorang!” sahut Lembu Sora tak kalah tajam.

“Adakah baginda dan segenap mantri kerajaan itu, kalah pandai dan kalah luas pandangannya dengan engkau? Adakah keputusan dari kekuasaan yang tertinggi dalam kerajaan Majapahit itu harus tunduk pada engkau seorang?”

Merah padam wajah Rangga Lawe. Dadanya berombak keras. Sebenarnya Lembu Sora sudah siap melontarkan kata-kata yang lebih tajam lagi. Tetapi ia dapat menimang kebijaksanaan. Jika didamprat dengan kata-kata yang tajam, Rangga Lawe tentu malu. Manusia yang berwatak seperti Rangga Lawe tentu memilih mati daripada malu.

“Lawe, sudahlah, tak perlu kita berbantah berkepanjangan,” akhirnya Lembu Sora berkata, “Pulanglah dan mintalah pertimbangan pada kakang Wiraraja. Beliau seorang ahli pemikir yang cerdas. Bila kakang Wiraraja menyetujui tindakanmu, akupun akan ikut mendukungmu. Tetapi sekiranya kakang tak merestui, engkaupun harus tunduk........”

Rangga Lawe tertegun. Saran Lembu Sora itu memang jalan keluar yang terbaik. Jika ia menuruti kemarahannya untuk mengamuk, dia tentu akan dibunuh oleh pasukan kerajaan.

“Baiklah ia menuruti anjuran Lembu Sora. Pulang dulu ke Tuban dan meminta pendapat ayahnya. Ia tetap menentang dan akan dituduh memberontak atau akan taat pada keputusan raja, baiklah pertimbangkan lagi. Namun untuk mundur dari pendiriannya, rasanya ia segan.

“Jika paman tak sampai hati mengakhiri hidup Lawe, baiklah. Aku akan pulang dan akan kupikirkan masak-masak segala peristiwa yang terjadi hari ini. Jika baginda berkenan mengabulkan permohonanku, aku pasti tetap mengabdi dan siap menyediakan diri sebagai tumbal negara. Namun kalau permohonanku itu dianggap sepi, akupun akan mempertimbangkan langkah. Tetap mengabdi atau terpaksa memberontak!”

Selesai melantangkan ucapan, adipati Tuban itu terus ayunkan langkah keluar dari balai bang. Perajurit-perajurit penjaga keamanan keraton, serempak bersiap. Tetapi mereka hanya membatasi diri pada sikap kesiap-siagaan. Selama belum menerima perintah, tak berani mereka sekehendak hati. Diam-diam perajurit itu bersyukur dan berharap mudah-mudahan jangan menerima perintah. Mereka kenal siapa dan bagaimana kesaktian adipati Tuban. Tiba diambang pura sekonyong-konyong Rangga Lawe berhenti, berpaling menghadap keraton lalu berlutut menyembah.

“Baginda Kertarajasa junjungan hamba, terimalah sembah bhakti Lawe yang terakhir. Bukan karena hamba tak tahu membalas budi, tetapi hamba benar-benar merasa malu karena pengabdian hamba untuk menegakkan kewibawaan kerajaan ternyata paduka tolak. Seorang perajurit lebih baik mati daripada ditolak pengabdiannya........”

Ia berbangkit lalu tegak menggagah dengan, bercekak pinggang dan berseru lantang.

“Hai, orang-orang Majapahit! Kalian telah menghina Rangga Lawe. Bersiap-siaplah mengasah senjatamu tajam-tajam agar jangan terbunuh oleh perajurit-perajurit Tuban. Rangga Lawe tak sudi menginjak keraton Majapahit lagi sebelum menjadi mayat!”

Berlapis-lapis pasukan bhayangkara dan kalanabhaya, tegang regang. Mereka marah atas ucapan Rangga Lawe yang mengancam itu. Namun mereka miris juga membayangkan akibatnya apabila mereka menerima perintah untuk menangkap macan dari Tuban itu. Barisan perajurit dari pasukan yang menjaga keamanan keraton itu tak dapat berbuat apa-apa kecuali lontarkan pandang mata ke arah adipati Tuban yang dengan langkah lebar keluar dari pura, mencemplak kuda dan mencongklang sepesat angin.

Lenyapnya bayangan adipati Tuban ku segera berganti dengan suara alunan kentongan titir yang riuh rendah. Suatu pertandaan bahwa pura Majapahit sedang menghadapi ancaman bahaya besar.......


BAB II : 

“Lawe, mengapa engkau bermuram durja sedemikian rupa?” tegur Adipati sepuh Wiraraja ketika puteranya menghadap.

Setelah Rangga Lawe diangkat sebagai Adipati Tuban dan Dataran, adipati Wiraraja tak kembali ke Madura melainkan tinggal bersama puteranya.

“Benarkah engkau ke Majapahit?” Wiraraja menyusuli kata.

Rangga Lawe mengiakan. Kemudian ia menuturkan peristiwa ia menghadap baginda Kertarajasa dan apa yang dialaminya di pura Majapahit.

Adipati sepuh Wiraraja terdampar dalam gelombang kegelisahan. Lama ia termenung diam. Baru ia agak terhenyak sadar dari lamunan, ketika pandang matanya tertumbuk dengan tatapan Rangga Lawe. Tatapan seorang anak yang menuntut petunjuk dari sang ayah.

Wiraraja tersadar. Naluri ke-ayahannya bangkit. Sebagai seorang ayah, ia harus menolong puteranya yang tengah menderita kesulitan. Wiraraja menyadari pula bahwa setiap langkah yang akan ditindakkan Rangga Lawe itu, besar sekali akibatnya. Salah langkah berarti suatu malapetaka yang akan membawa kemusnahan keluarga dan huru hara yang mengganggu keselamatan rakyat Tuban dan Majapahit.

Wiraraja kerutkan dahi. Ia merasa bahwa saat itu ia dihadapkan dengan tantangan yang jauh lebih berat daripada ketika dahulu Raden Wijaya datang minta bantuan kepadanya. Karena yang dihadapi saat itu adalah persoalan gawat antara puteranya dengan raja Kertarajasa atau Raden Wijaya. 

    Wiraraja, adipati Madura yang terkenal sebagai ahli pikir dan siasat yang ulung, saat itu benar-benar diuji kepandaiannya. Ia tahu perangai puteranya itu. Sejak kecil Lawe memang beradat keras, pemberani dan berangasan. Sukar ditaklukkan dengan kekerasan melainkan harus diendapkan dengan kata-kata penyadaran yang mengena. Maka ditempuhnyalah jalan itu.

“Lawe,” mulailah Adipati sepuh itu melancarkan usahanya untuk memberi penyadaran kepada puteranya. “Kutahu betapa perasaanmu. Engkau berani bertindak karena demi memikirkan kepentingan kerajaan. Engkau telah menunjukkan salah satu sifat dari seorang kesatrya yang mengabdi raja. Ialah yang disebut Mantriwira, sifat seorang pembela negara yang berani dan tegas........”

Rangga Lawe agak terkesiap. Ia tak menduga bahwa ayahnya yang diduga tentu tak menyetujui tindakannya, ternyata tidak bersikap demikian. Ayahnya tampak memberi angin. Ketegangan hati Rangga Lawe agak reda. Ia mengangguk pelahan.

“Benar, memang demikianlah tujuanku.”

Diam-diam cerahlah hati Wiraraja karena merasa berhasil memikat perhatian puteranya ke arah lingkar pembicaraan yang telah disiapkan.

“Lawe, masih ingatkah engkau akan ajaran perilaku seorang kesatrya yang pernah kukatakan kepadamu dahulu?” tanya Wiraraja.

“Masih.......” sahut Lawe dengan nada keragu-raguan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KEMARAHAN RONGGOLAWE (SERI 004)"

Post a Comment

pembaca yang bijak, selalu menggunakan bahasa yang baik dan santun. Terima kasih.

Translate

Cari

LIVE TRAFIC FEED