RAHASIA SEMUA ORANG (SERI 357)

KLIK pada gambar untuk membesarkan

RAHASIA-rahasia yang kuketahui tanpa kukehendaki memang terbagi dua.

    Pertama adalah rahasia yang sudah kuketahui isinya, seperti rahasia yang disampaikan oleh pengantar surat di jalur cepat. Itulah rahasia yang diminta agar disampaikan kepada Panglima Pertahanan Kota, yang setelah mengetahui rahasianya lantas memintaku untuk menyampaikannya kepada Perdana Menteri Zheng Yuqing.

    Aku belum melupakan perjalanan berdarah yang ditempuh rahasia itu untuk bisa sampai ke Chang'an, berapa orang pengantar surat tewas akibat berperan sebagai pengelabu yang sebetulnya tidak membawa rahasia, bahkan pembawa rahasia dalam ingatannya itu pun tiada luput dari pembantaian lawan, sehingga menitipkannya secara lisan kepadaku. Pada gilirannya diriku pun terpaksa membantai begitu banyak orang yang berusaha merebut atau menghalangiku, meninggalkan jejak berdarah yang panjang.

Begitu mahalnya suatu rahasia!

Untuk jenis rahasia ini, meski kuketahui isinya, aku tidak dapat mengungkapnya karena memang rahasia.

    Kedua adalah rahasia yang tidak kuketahui isinya, tetapi kuketahui keberadaannya, sehingga justru ingin mengungkapnya seperti dengan rahasia negara yang dibagi tiga di antara tiga orang kebiri malang yang disebut Si Tupai, Si Cerpelai, dan Si Musang itu. Baru sekaranglah aku berpikir agak lebih baik tentang cara membongkar rahasia negara tersebut.

    Pertama, jika disebut kata negara, maka aku tidak harus menafsirkannya sebagai sesuatu yang berhubungan dengan peraturan resmi pemerintah misalnya, melainkan suatu atau sejumlah kelompok dalam permainan kekuasaan di luar pemerintahan, yang berkepentingan dengan suatu keadaan tertentu, jika tidak di Negeri Atap Langit, setidaknya di Istana Daming. Mengingat berlangsungnya pengejaran terhadap orang-orang kebiri ini membawa hawa pembunuhan, maka dapat dikatakan bahwa keadaan tertentu itu berusaha dicapai dengan cara yang tidak sah.

    Kedua, disebutkan bahwa tiga orang kebiri malang ini seharusnya bertemu dalam pelarian, untuk menggabungkan sepertiga bagian rahasia masing-masing, tetapi ketiganya tewas sebelum sempat bertemu, juga dengan cara masing-masing. Si Cerpelai terpotong-potong tubuhnya dan dimasukkan ke dalam karung, Si Tupai terbunuh oleh racun orang-orang Kalakuta, dan Si Musang mati bunuh diri di Kampung Jembatan Gantung. Ketiganya jelas belum mengetahui apa isi rahasia tersebut.

    Ketiga, dengan demikian, rahasia ini sebetulnya bukan rahasia lagi bagi sebagian besar orang dalam jaringan, tetapi begitu merembes keluar dari jaringan segera dianggap kebocoran yang harus cepat diatasi, yakni dengan cara meniadakan para pemilik pengetahuan keterangan-keterangan terpisah itu, yang berarti juga membunuhnya. Namun bukanlah mereka bertiga, melainkan seseorang atau pihak lain lagi dalam jaringan yang menjadi pembocor, dengan membagi rahasia itu menjadi tiga, tetapi yang tentunya dengan suatu cara telah terpergok.

    Kiranya itulah yang membuat Si Musang dipotong lidahnya, agar tidak membocorkan rahasia, tetapi dibiarkan tetap hidup agar masih bisa menunjukkan siapa yang membocorkannya. Namun ketika bahkan ketiganya sudah mati, ternyata aku masih berpikir tentang apa yang diketahui mereka masing-masing dan berharap bisa menggabungkannya. Padahal, setelah pertama-tama masih berpikir tentang mencari siapa pembocornya, begitu lambat diriku sampai kepada gagasan bahwa jika ada satu pembocor, yang mengetahui rahasia itu tentu cukup banyak!

Sun Tzu berkata:

setiap orang mempunyai tempat
dan setiap orang memiliki nilainya
cara melihat ini mengizinkan
penggunaan cerdas petugas-petugas rahasia.
sebagian besar keterangan didapat dari petugas rahasia ganda 1


    Langit merah ketika aku tiba di depan pintu rumah Ibu Pao. Bersediakah kiranya ia menemuiku? Kami belum pernah bertemu lagi semenjak pertemuan yang dulu itu, ketika ia kemudian menghubungkan diriku dengan Putri Anggrek Merah.

    Aku berada di depan sebuah wafang atau rumah beratap genting yang letaknya agak terpencil di dalam sebuah petak permukiman yang rumah-rumahnya tergabung membentuk petak-petak kecil di dalamnya. Rumah itu tampak sesuai dengan keberadaan Ibu Pao yang hidup sendiri, sering pergi sehari penuh sampai jauh malam atau bahkan berhari-hari, tetapi juga untuk menerima tamu-tamu penting yang tidak ingin urusannya diketahui oleh orang lain. Aku berdiri di depan pintu dengan dua buah jendela tanpa daun, memanggil-manggil penghuninya.

“Selamat sore Ibu Pao! Selamat sore! Adakah orang di rumah?”


Pintunya tertutup, tetapi terdapat sedikit celah, seperti ada orang di dalam rumah, sehingga kudorong saja. Pintunya pun membuka.

“Ibu Pao? Selamat s....”

Aku tidak dapat meneruskan kata-kataku karena dari dalam rumah melesat sebuah pisau terbang langsung ke arah jantungku! (bersambung)

_______________________________________________________________________________________________________________
1. Su Tzu, The Art of War , diterjemahkan oleh Stephen F. Kaufman (1996), h. 108. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "RAHASIA SEMUA ORANG (SERI 357)"

Post a Comment

pembaca yang bijak, selalu menggunakan bahasa yang baik dan santun. Terima kasih.

Translate

Cari

LIVE TRAFIC FEED