SEORANG PENDEKAR YANG TIADA BERNAMA (SERI 2)

KLIK pada gambar untuk memperbesar
Pada tahun 871, seorang lelaki tua berusia 100 tahun mulai menggurat-guratkan pengutik di atas lempir-lempair lontar sambil berusaha keras mengingat-ingat apakah yang mungkin telah dilakukannya sebagai kesalahan, sehingga Kerajaan Mataram mengirim kesatuan prajurit terpilih untuk membunuhnya di tempat seketika itu juga, padahal ia telah mengundurkan diri dari dunia persilatan sampai 25 tahun lamanya, melakukan olah dhyana di dalam gua. Apabila kemudian para prajurit itu gagal, ternyata lantas beredar lempir-lempir lontar dengan guratan yang menggambarkan dirinya, sebagai tawaran bagi para pemburu hadiah maupun Vetana ghataka atau pembunuh bayaran untuk mencabut nyawanya, dengan hadiah 10.000 keping emas. Setelah mencoba dengan sia-sia mencari jawaban yang meyakinkan, mulailah ia meneliti dengan terperinci riwayat hidupnya sendiri Demikianlah sejarah mencatat bahwa Pendekar Tanpa Nama telah menuliskan riwayat berjudul Kitab Nagabumi. Pada gulungan keropak yang telah bertumpuk-tumpuk karena ditulis setiap hari selama beberapa tahun, Pendekar Tanpa Nama yang mengawali penulisannya pada usia 100 tahun mengaku betapa ingatan terjauh dari masa kecilnya adalah desing pisau terbang, desis jarum-jarum beracun, dan bunyi logam berdentang dari pedang yang beradu ini masih ditambah suara jeritan manusia yang terluka, jeritan terakhir sebelum binasa, maupun suara hiruk-pikuk yang penuh dengan bentakan, makian, dan lagi-lagi suara kesakitan, yang kemudian masih dikenalinya akan disusul bunyi darah terciprat. Tiada juga suatu nama dalam riwayat itu. Hanya suara-suara. Terutama suara roda gerobak yang dilarikan seekor kuda. Dalam ingatan Pendekar Tanpa Nama dunia berguncang karena dirinya sebagai bayi ternyata berada di dalam gerobak itu. Suara gerobak yang melayang jatuh kejurang tanpa dirinya, karena seorang perempuan pendekar telah menyambarnya keluar ketika kuda itu melaju. Sais gerobak itu telah terbunuh oleh gerombolan yang memburunya. Disebutkan bahwa sejumlah orang berlompatan dari atas kuda ke dalam gerobak, seperti berusaha merampas bayi tersebut, bahkan telah memapas leher perempuan yang menggendongnya, sehingga darahnya yang menciprat membuat wajah si bayi sama sekali merah. Perempuan pendekar itu menarik dan melempar keluar lelaki bergolok hitam yang berada di dalam gerobak, hanya untuk dihabisinya kemudian bersama 30 anggota gerombolan yang menyerang gerobak itu seperti lebah mengerumuni madu. Di luar gerobak, suaminya yang juga seorang pendekar telah bergerak membasmi tanpa pandang. Dalam waktu singkat tigapuluh orang tergeletak di jalan dengan luka mematikan. ”Kalian pengecut tidak tahu malu,” ujar suaminya itu, sambil menguapkan darah pada pedangnya dengan saluran tenaga dalam melalui tangannya, sehingga pedang yang bersimbah darah itu berkilat cemerlang kembali. Maka bayi itu pun diasuh oleh Sepasang Naga dari Celah Kledung. Sepasang pendekar dengan ilmu Pedang Naga Kembar yang tak terkalahkan. Mereka menolak untuk menjadi pendekar tingkat naga yang kesepuluh dari Pahoman Sembilan Naga, para pendekar yang karena kesaktiannya mendapatkan wibawa naga, dan mendapat kepercayaan untuk menjaga keseimbangan dunia persilatan di tanah Jawa. Terhadap bayi lelaki yang diasuhnya itu pun sepasang Naga dari Celah Kledung tidak memberikan suatu nama.....(bersambung)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SEORANG PENDEKAR YANG TIADA BERNAMA (SERI 2)"

Post a Comment

pembaca yang bijak, selalu menggunakan bahasa yang baik dan santun. Terima kasih.

Translate

Cari

LIVE TRAFIC FEED